Mengembalikan Fungsi Mailing List Angkatan
Note : Tulisan ini bekas tugas MPD, jadi sory2 aja kalau bahasanya agak “bijak” he3..
Subject : Liat deh, lucu banget !”. Petikan kalimat di samping adalah subject salah satu e-mail yang dikirim Andrew ke mailing list internal kelasnya. Sebagai seorang yang hampir setiap hari berselancar di dunia maya, Andrew kerap kali menemukan content yang menurutnya menarik ataupun lucu. Tanpa ragu-ragu, iapun kerap mem-forward alamat situs pilihannya itu ke mailing list angkatan Ilmu Komputer 43.
Suatu hari, salah seorang anggota maling list lain yaitu Jeni meberikan tanggapan berikut : “Eh, apaan sih nih ? Gak penting banget ! Menuh-menuhin inbox gw ajah..”. Akhirnya merekapun bertengkar via maling list atau kerap disebut flame war. Andrew ngotot dengan pendiriannya bahwa mailing list kelas bukan cuma untuk bertukar slide namun sebagai media sharing hiburan juga. “Agar tidak boring” bantah Andrew. Sementara menurut Jeni, mailing list kelas seharusnya digunakan sesuai dengan fungsinya, untuk bertukar informasi yang kira-kira berguna bagi mahasiswa.
Mailing List kelas merupakan alternatif media pertukaran informasi yang biasa di gunakan di kelas selain jarkom ( jaringan komunikasi ) dan teriak di depan kelas tentunya. Bagi jurusan yang anak-anakanya menggunakan internet cukup sering seperti Ilmu Komputer, maling list dapat sangat membantu ketua kelas dalam menjalankan tugasnya. Ketua kelas dengan mudah membagi-bagikan soft copy slide, memposting pengumuman, ralat jadwal kuliah minggu depan, informasi kegiatan, dan lain sebagainya. Bukan hanya ketua kelas yang terbantu oleh adanya mailing list. Mahasiswa “biasa” pun dapat dengan mudah membagi-bagikan informasi penting yang dia terima untuk diketahui oleh mahasiswa lain.
Namun selain keuntungan-keuntungan di atas, mailing list juga mempunyai beberapa kelemahan. Tidak semua informasi bagus untuk diposting di mailing list. Ralat jadwal kuliah besok tentu tidak cocok untuk diumumkan lewat mailing list karena tidak semua anak ngecek email mereka hari ini. Selain itu, peserta mailing list juga seringkali hanya membaca pesan yang subjeknya dia anggap menarik.
Yang akan dibahas disini adalah, mailing list akan sangat mudah berubah fungsinya dari media pertukaran informasi menjadi arena untuk ngejunk ( memposting informasi yang tidak berguna ) dan debat kusir. Untuk itu mari kita lihat hal-hal yang perlu diperhatikan agar mailing list internal angkatan bisa tetap berjalan sesuai fungsinya.
Hal pertama yang diperlukan adalah peraturan mailing list yang baik dan sosialisasi yang cukup. Peraturan miling list internal kelas sebaiknya dibagikan dalam bentuk hard-copy agar dibaca dan diperhatikan oleh calon peserta mailing list. Ketua kelas sebaiknya mempersentasikan dan mendiskusikan poin-poin peraturan yang kira-kira penting. Hal ini berguna untuk mencegah komplain di masa yang akan datang. Selain itu, peraturan yang diketahui dan disepakati bersama akan membuat peserta nyaman untuk mematuhinya.
Berikutnya, untuk mengatur isi dari diskusi tanpa membatasi peserta mailing list, sebaiknya diimplementasikan sistem taging ( penanda ). Setiap email yang dikirim ke mailing list internal harus memakai tag. Misalnya, gunakan tag OOT untuk posting yang kira-kira tidak begitu penting dan hanya bersifat hiburan. Kalau kita lihat contoh email dari andrew tadi, maka subjek pesan dari andrew akan tampak seperti ini : “Subject : [OOT] Liat deh, lucu banget !”. Dengan penanda, peserta mailing list dapat memilah-milah mana pesan yang perlu dibaca dan mana yang cukup dibuang begitu saja. Contoh tag lain yang dapat digunakan adalah “info”, “pengumuman”, “slide”, dsb sesuai kesepakatan.
Hal yang berikutnya harus diperhatikan adalah moderator. Moderator harus mampu mengarahkan jalannya diskusi, memberi peringatan, dan mensosialiasikan peraturan yang ada. Moderator juga harus memberikan contoh yang baik mengenai bagaimana memposting informasi ke mailing list. Tanpa moderator, peraturan menjadi tidak ada gunanya. Peraturan yang tidak ditegakan akan segera dilupakan oleh orang. Keseluruhan poin diatas adalah poin minimal yang diperlukan agar mailing list kelas dapat berjalan sesuai fungsinya.
Maka dari itu, agar maling list internal kelas menjadi nyaman, hendaklah kita mematuhi peraturan yang berlaku dan memperhatikan etika berdiskusi yang baik. Kita tidak tahu suasana hati orang yang memabaca email yang kita kirim. Mungkin saja mereka sedang kesal dan menjadi bertambah kesal saat membaca email sampah yang kita kirim. Selai itu, peserta mailing list memiliki asal-usul yang berbeda-beda. Janganlah mengirim informasi yang menyinggung masalah SARIP ( suku, agama, ras, dan IP ). Mengirim artikel tentang siraman rohani tentu sangat baik, namun hendaklah diperhatikan untuk tidak berisi sesuatu yang menyinggung dan menghina keyakinan orang lain. Begitu juga dengan daerah dan suku.
Satu hal yang harus kita tanamkan baik-baik adalah, mailing list merupakan ajang diskusi publik. Jangan jadikan forum diskusi publik menjadi ajang debat berdua. Jika anda hendak memposting hal yang sifatnya pribadi seperti ajakan kencan, tentu lebih baik jika dikirim ke email pribadi orang yang bersangkutan. Perhatikan juga tata-krama, kata yang anda anggap sopan mungkin saja tergolong kasar bagi orang lain. Untuk itu, mari kita baca baik-baik isi pesan yang kita tulis sebelum menekan tombol “submit”.






